Cikuray Jadi Pilihan Favorit Para Pendaki yang Ingin Menjajal Gunung di Garut

SELAIN Papandayan, Gunung Cikuray juga menjadi tempat favorit pecinta wisata alam. Gunung yang terletak di bagian selatan Kota Garut itu memiliki ketinggian sekitar 2.818 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Gunung yang berada di perbatasan Kecamatan Bayongbong, Cikajang dan Dayeuhmanggung, ini menarik untuk pendakian karena jalurnya terbilang unik, terjal, dan cukup menantang.

Jalur pendakian melalui Desa Dayeuhmanggung terbilang lebih mudah ketimbang melewati jalur Bayongbong atau Cikajang.

Untuk mencapai Desa Dayeuhmanggung, dari terminal bus Guntur kita bisa naik angkot bernomor 06 jurusan Garut-Cilawu, turun di Patrol lalu melanjutkan perjalanan dengan ojek menuju perkebunan teh Dayeuhmanggung atau warga sekitar menyebutnya dengan Pemancar.

Baca Juga:  Arus Deras Sungai Cikaengan Jadi Buruan Para Penguji¬†Adrenalin ¬†

Dari stasiun pemancar ini, kita memulai pendakian melalui kebun teh selama 30 menit, lalu memasuki hutan yang teduh untuk menuju pos satu.

Dari pos satu perjalanan dilanjutkan ke pos dua dengan jarak tempuh sekitar satu jam. Jalur pendakian dari pos satu ke pos dua, masih cukup standar dan tidak terlalu sulit. Tantangan kesulitan baru dihadapi ketika menuju pos tiga yang jalurnya memiliki medan curam dengan kortur cukup rapat.

Medan yang sama juga terdapat saat kita menuju pos tiga ke pos empat dan pos lima, lalu dilanjutkan ke Pos Puncak Bayangan yang memiliki lahan lebih datar tanpa semak belukar.

Di lokasi ini, kita bisa beristirahat sebelum menuju ke puncak yang jaraknya bsa ditempuh dalam waktu 15 menit. Kita bisa bersantai di pos enam, sambil menunggu momen matahari terbit atau tenggelam.

Baca Juga:  Kemenpar Gelar Wayang Ajen Dalam Hari Jadi Garut 205

Rasa lelah selama perjalanan akan terasa hilang, begitu kita tiba di puncak Gunung Cikuray. Hamparan awan putih membentang, seolah kita sedang berada pada negeri di atas awan.

Oh ya, perlu diingat kita harus memiliki bekal air minum yang cukup untuk mendaki gunung ini, karena selama perjalanan tidak ada sumber mata air. (Skln/FJ)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Terdeteksi

Harap pertimbangkan untuk mendukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda