Tak Sepopuler Dodol, Namun Burayot Lebih Dulu Ada di Garut

MESKI tidak sepopuler Dodol Picnic yang mendunia, namun penganan khas Garut zaman dahulu (jadul) yang terbuat dari tepung beras dan gula aren ini justru sudah dinikmati jauh sebelum dodol ada.

“Memang jika sejarah awal mulanya saya sendiri tidak tahu persis, tapi info secara turun-temurun dari orangtua, memang sudah ada sejak zaman penjajahan,” ucap Rika Rianti, pengusaha penganan burayot di Garut.

Bagi yang berencana melancong ke Garut, makanan khas dari Kecamatan Leles ini bisa dinikmati di Saung Burayot di Jalan Baru Cipanas. Terutama, saat pagi hari.

Berada di samping kanan jalan sebelum menuju pusat wisata air hangat Cipanas, Garut, para pelancong bisa memesan, menikmati atau sekadar mencicipi makanan khas burayot yang satu ini.

Baca Juga:  Colenak: "Beuleum Peuyeum Digulaan", So Pasti Dicocol Enak

“Paling pas pasangannya disajikan sama teh tawar hangat, mantap,” ujar Hali Wardana, sang suami menambahkan.

Konon, burayot adalah penganan kesukaan menak atau bangsawan Belanda. Meskipun terbilang jadul, di tangan pasangan suami-istri, Rika Rianti (47) dan Hali Wardana (57), makanan itu kini hidup kembali untuk dinikmati masyarakat luas.

“Lebih tepat eksis kembali dalam 3-4 tahun belakangan ini,” kata Rika.

Burayot yang berarti menggelantung dalam bahasa Indonesia, memang terbilang makanan unik buat warga Garut. Meskipun demikian, bukannya lebih mudah didapat, penganan ini justru terancam punah karena proses pembuatanya yang membutuhkan ketelitian.

“Buat generasi sekarang yang serba instan, memang malas mempelajarinya,” tutur dia.

Baca Juga:  Dorokdok, Sudah Pasti Termasuk Jajaran Makanan Khas Garut

Rika pun berbagi resep pembuatan penganan burayot. Pertama, proses penggorengan yang tepat dengan memperhatikan suhu minyak yang seimbang, memang membutuhkan keterampilan. Terlambat sedikit, bahan adonan yang telah disediakan terancam gagal total.

“Ada yang bulatannya tidak sempurna, pecah bahkan tidak mengembang,” ujarnya.

Rika menyatakan, bahan baku yang digunakan dalam burayot tidak ada yang aneh. Hanya tepung beras dan gula aren. Namun, hal yang membedakan terletak pada proses penggorengan berlangsung. “Kuncinya, kita harus pas waktunya saat pengangkatan di wajan penggorengan itu,” katanya.

Setelah adonan tepung beras dan gula aren tercampur sempurna, bahan adonan kemudian diubah menjadi bola-bola kecil. Selanjutnya dipipihkan hingga rata sempurna sebelum dilakukan penggorengan di atas wajan dengan titik didih minyak yang memadai.

Baca Juga:  Di Jalur Ini, Ayam Bakar Mang Dedi Tetap Pilihan Kesatu

Saat pertama kali digoreng, terlihat bahan adonan pipih tersebut, langsung menggelembung dan persekian detik kemudian, harus segera diangkat untuk selanjutnya ditiriskan agar mendapatkan bentuk yang ideal.

“Kalau tidak (segera) adonan tidak menggelembung sempurna, itu gagal, paling nanti nanti jadi bahan tester pembeli saja,” katanya. (Lpt6/TSN)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Terdeteksi

Harap pertimbangkan untuk mendukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda