Catatan Asep Lukman: Jebakan Para Pendukung bagi Rezim

UMUMNYA orang memandang lembaga negara dan pemerintah itu sama saja artinya, tidak ada bedanya. Pandangan semacam ini tentu dalam pandangan yang idealis. Maksud idealnya apa yang menjadi visi misi negara yang tertuang dalam bentuk sistem konstitusi dan semua undang-undang di bawahnya itu bisa total dilaksanakan dijalankan oleh pemerintah.

Dengan begitu kita akan melihat di mana negara dan pemerintah persis seperti dua sisi mata uang. Kenapa saya katakan demikian, karena pemerintah adalah pelaksana semua kehendak negara yang tercatat kuat dalam aturannya, pemerintah dipimpin oleh seorang presiden yang secara absolut bisa disebut sebagai kepala negara.

Pertanyaannya; Apakah betul yang kita lihat itu seperti itu? Kenapa membangun kehidupan berbangsa dalam bingkai bernegara senantiasa muncul “dualisme”, yaitu ada visi misi negara dan ada visi misi pemerintah atau lebih tepatnya yaitu “Visi misi rezim”.

Baca Juga:  Waduh..., Ternyata Wanita Tak Tertarik Pria Baik-baik

Visi misi negara adalah bentuk kebijakan atau program-program yang terarah, terukur logis reaistis tidak bersifat dipaksakan dan mencakup kepentingan umum. Semisal negara menghendaki bahwa mayoritas sebagai pengendali kekuasaan, dalam pandangan demokrasi hal ini sangat logis realistis dan jauh untuk disebut memaksakan kehendak

Sedangkan visi misi rezim umunya kebalikan dari itu, di mana orientasinya hanya pencitraan demi kepentingan penguasa dan kroninya. Contoh seperti jor-jorannya pembangunan infrastruktur yang sama sekali tidak didukung dengan keseimbangannya kekuatan APBN. Dengan begitu maka negara dibuat mejadi lebih susah, akhirnya masyarakatlah yang menjadi sasaran penekanan akibat tingginya pungutan pajak dan melambungnya biaya kebutuhan hidup. Implikasinya, citra negara pun terjustifikasi menjadi buruk di mata masyarakat.

Baca Juga:  Inovasi Desa, Solusi Kemandegan Pembangunan Desa

Namun hal di atas akan berbeda jika dibandingkan dengan pandangan para pendukung rezim, sebagaimana judul besar di atas. Saya ingin membahas masalah pendukung rezim (kaum loyalis).

Seburuk apapun suatu rezim tetap saja ada pendukungnya yang secara garis besarnya pendukung rezim itu terbagi dalam dua katagori. Pertama, pendukung setia (idealis) contohnya seperti para politisi yang partainya menjadi pengusung rezim. Kedua, yaitu pendukung yang semangatnya sangat menggebu-gebu dalam memancing di air keruh dengan tujuan total demi materi dan fanatisme semata.

Pendukung seperti itu adalah orang-orang yang boleh dibilang cukup cerdas dalam memanfaatkan “Sikon”.  Orang-orang seperti itu hanya akan menghisap sari-sari madunya, dan setelah itu pasti mereka akan tungganglanggang ketika si rezim sudah dalam kondisi sekarat. Persis seperti kata peribahasa “Habis manis sepah dibuang”.

Baca Juga:  Enam Fakta Kenyamanan Kalau Hidup di Desa, Mau Tahu?  

Kedua, pendukung tersebut pasti akan membawa resiko bagi rezim. Kenapa? Karena jatuhnya suatu rezim itu bisa disebabkan oleh kuatnya pendukung yang punya andil besar dalam memperburuk rezim yang berimplikasi pada buruknya citra negara.

Kendati demikian, pada faktanya semua rezim senantiasa terlena ketika melihat kekuatan pendukung. Di mana, keterlenaan itu membuat keegoan rezim semakin menjadi dalam melakukan apa yang menjadi visi misinya. Dirinya tidak sadar bahwa di balik kekuatan tersebut ada resiko besar yang mengancam saat-saat kejatuhannya. ***

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Terdeteksi

Harap pertimbangkan untuk mendukung kami dengan menonaktifkan pemblokir iklan Anda